Rabu, 28 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
evanbailyn.comevanbailyn.com
evanbailyn.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Aku Sempat Salah Pilih: Les Privat atau Belajar Ba...

Aku Sempat Salah Pilih: Les Privat atau Belajar Bareng di Rumah?

Bingung antara les privat atau belajar bareng di rumah buat si kecil? Ini perbandingan jujur dari orang tua baru yang sudah coba dua-duanya.

Aku Sempat Salah Pilih: Les Privat atau Belajar Bareng di Rumah?

Waktu anak gue masuk SD tahun lalu, gue dan istri sempat ribut kecil soal satu hal: apakah dia butuh les privat atau cukup belajar bareng teman-temannya di rumah. Kedengarannya sepele, tapi buat kami yang baru pertama kali punya anak sekolah, keputusan ini rasanya berat banget. Takut salah pilih, takut anak ketinggalan, takut juga boncos karena biaya les yang lumayan menguras kantong.

Kalau kamu sekarang ada di posisi yang sama, tenang. Gue sudah coba dua-duanya, dan cerita di bawah ini mungkin bisa bikin kamu lebih tenang ambil keputusan.

Baca juga: Udang Pangsit Renyah: Cara Membuat Camilan Seafood yang Mudah dan Gurih

Kenapa Dua Pilihan Ini Sering Bikin Orang Tua Baru Galau

Masalahnya begini: dua-duanya kelihatan masuk akal. Les privat menjanjikan perhatian penuh dan materi yang terarah. Sementara belajar bareng di rumah terdengar lebih hemat, lebih santai, dan anak bisa tetap main. Dua-duanya punya penggemar sendiri, dan biasanya yang paling vokal justru grup WhatsApp wali murid.

Gue pernah ikut satu grup yang isinya hampir semua mendukung les privat. Ada juga grup lain yang ngotot kalau anak cukup belajar bareng sepulang sekolah. Dua-duanya bikin gue makin bingung, karena setiap orang tua punya alasan yang terdengar benar semua.

Yang akhirnya gue sadari: pilihan ini bukan soal mana yang lebih bagus secara umum, tapi mana yang cocok sama karakter anak dan kondisi rumah kita. Klise memang, tapi beneran begitu kenyataannya.

Pengalaman Gue Nyoba Les Privat Dulu

Kami mulai dengan les privat karena gue pikir ini pilihan paling aman. Gurunya datang ke rumah dua kali seminggu, satu setengah jam per sesi. Awalnya semuanya lancar. Anak gue kelihatan lebih fokus karena memang cuma dia yang diajar.

Tapi masuk bulan kedua, ada yang berubah. Dia mulai males kalau jam les mau mulai. Katanya capek, padahal baru pulang sekolah. Gue perhatikan, masalahnya bukan materinya susah, tapi dia merasa "sekolahnya" jadi dua kali. Pagi di sekolah, sore les lagi. Buat anak kelas satu SD, itu ternyata berat.

Dari sisi hasil, les privat memang kelihatan efektif. Nilai matematikanya naik, dia lebih cepat paham materi baru. Tapi harga yang dibayar bukan cuma uang. Ada rasa jenuh yang mulai muncul, dan itu bikin gue mikir ulang.

Les privat itu kayak obat dosis tinggi: manjur, tapi kalau dipakai terus tanpa jeda, anak bisa "overdosis" belajar.

Giliran Coba Belajar Bareng di Rumah

Setelah tiga bulan les, kami coba pendekatan lain. Anak gue diajak belajar bareng dua temannya di rumah, seminggu dua kali, sekitar satu jam. Yang ngawal bergiliran antara gue, istri, dan orang tua temannya. Nggak ada guru profesional, cuma orang tua yang bantuin kalau ada yang nggak ngerti.

Hasilnya? Lucu. Anak gue jadi lebih semangat karena ada temannya. Mereka saling tanya, kadang saling ejek kalau salah, tapi suasananya hidup. Materi yang biasanya bikin ngantuk jadi lebih gampang dicerna karena mereka ngobrol sambil belajar.

Tapi bukan berarti semuanya mulus. Ada kalanya mereka malah asyik ngobrol soal game dan lupa waktu. Ada juga momen ketika satu anak lebih cepat paham, sementara yang lain masih bengong. Di situ gue sadar, belajar bareng butuh pengawasan yang lebih sabar.

Yang Perlu Disiapkan Kalau Mau Coba Belajar Bareng

  • Jadwal yang jelas. Tanpa jadwal, belajar bareng gampang berubah jadi ajang main. Sepakati jam mulai dan selesai, tempel di dinding kalau perlu.
  • Materi yang disepakati. Biasanya kami pilih satu atau dua topik saja per sesi, biar nggak melebar ke mana-mana.
  • Orang tua yang bergiliran ngawal. Nggak harus jago matematika, yang penting bisa jaga suasana tetap di jalur.
  • Ruang yang cukup tenang. Kami pakai meja makan karena ruang tamu terlalu ramai.

Jadi, Mana yang Lebih Efektif?

Jawaban jujurnya: tergantung anakmu. Kalau anakmu tipe yang butuh perhatian penuh dan gampang teralih perhatian, les privat bisa jadi pilihan yang lebih masuk akal. Apalagi kalau ada materi tertentu yang memang butuh pendampingan intensif.

Tapi kalau anakmu tipe yang semangatnya naik kalau ada teman, dan kamu punya waktu serta lingkungan yang mendukung, belajar bareng di rumah bisa jauh lebih efektif. Bukan cuma soal nilai, tapi soal gimana dia memandang belajar. Anak yang merasa belajar itu menyenangkan biasanya lebih tahan lama semangatnya.

Di rumah kami, sekarang jalannya campuran. Les privat hanya dipakai kalau ada materi yang benar-benar perlu bantuan, misalnya menjelang ujian atau saat ada topik yang bikin anak gue stuck. Selebihnya, belajar bareng jadi rutinitas mingguan yang justru ditunggu-tunggu.

Gue nggak menyesal pernah nyoba dua-duanya. Justru dari situ gue belajar bahwa nggak ada satu cara yang cocok buat semua anak. Yang penting, kita sebagai orang tua mau mengamati, bukan cuma ikut-ikutan tren di grup wali murid.

Kalau kamu masih bingung, coba deh mulai dari yang paling ringan dulu. Ajak anak ngobrol, tanya dia lebih nyaman belajar sendiri sama guru atau bareng teman. Kadang jawaban paling jujur justru datang dari anak sendiri, bukan dari diskusi panjang di grup WhatsApp.

Tags: les privat belajar bareng pendidikan anak orang tua baru cara belajar efektif